Blogger Tips and TricksLatest Tips And TricksBlogger Tricks

Thursday, February 4, 2016

Keempat - Obrolan Random dan Kenyataan.

Waktu nulis ini saya lagi chat sama teman saya yang baru aja ngobrol sama mantannya. Lalu dia ngasih kutipan obrolannya ke saya. asik bacanya. ngayal kesana kemari dan random, absurd yang menyenangkan.

Dulu, duluuu.. banget saya ketemu beberapa orang yang bisa bikin saya menikmati momen-momen itu. Seru ya. berasa jadi orang paling keren di antara yang lain karena bisa ngobrolin apa aja dan merasa kami yang paling benar, atau yang paling random. apalah itu yang jelas saya ngerasa kita asik banget saat itu. Sampe akhirnya orang-orang ini berlalu gitu aja dan nikah bukan sama saya.

Sedih ya.

Saya juga nggak tau waktu itu kenapa saya nggak bisa sama mereka.

...dan sekarang saya kangen sih sama mereka.

But then i realize.. how random it would be. Dua orang yang suka lari-lari kesana kemari. Barengan. gimana jadinya?

Setelah dilihat lagi memang orang-orang yang saya bilang tadi akhirnya menikah sama orang yang kelihatan lebih realistis dan nyata untuk mereka.

Mungkin emang begitu harusnya. kita bareng sama orang yang lebih realistis dan bikin kita bisa kembali kemana kaki kita terjejak. Yaa.. bagus sesekali terbang, berkhayal, tapi nggak buat terus hidup di dunia yang kadang terlalu nyata untuk dikhayalin ini.


Its okay being with someone who let you fly away, but.. akhirnya mungkin yang kamu cari cuma orang yang bisa bikin kamu jadi manusia biasa.. yang buat kamu nyaman dan bisa survive.




Yang diceritakan dengan baik di trilogi ("Before Sunrise", "Before Sunset", dan "Before Midnight")


Ketiga - Jodoh

Apa yang saya tulis disini mungkin nggak akan sama untuk orang lain. Ini cuma apa yang udah pernah dialamin, dan pandangan sotoy diantara beberapa cerita hidup yang masih nggak seberapa itu.

Tentang partner.

Saya punya beberapa teman perempuan dan laki-laki yang sampe seumuran ini belum juga punya pacar dengan berbagai alasan. Rata-rata saya perhatiin alasannya adalah nggak bisa move on dari orang yang dia anggap soulmatenya yang saya lihat lebih cocok dibilang obsesinya.

Kadang mereka ngeluh si cowo/cewe nggak cocoklah, nggak ngertiin merekalah, nanti kalo nggak asik gimanalah, cakep sih tapi nggak serulah, dan ini yang paling tragis menurut saya.. nggak nyambung becandanya. serem ya.

Padahal, saya setuju dengan kalimat yang sering banget diulang-ulang Papa saya : 

"jodoh itu peristiwa gaib maha dahsyat"

hahaha..

Sampe dibilang maha dahsyat sebenarnya mungkin karna papa saya nggak menemukan kata lain yang cocok untuk kebetulan-kebetulan dan berbagai hal yang bisa diciptakan oleh pertemuan bernama jodoh ini.

Buat saya, jodoh itu.. orang yang tepat di waktu yang tepat.

Nggak ada orang yang sempurna, semua diciptain sepaket.. kelebihan dan kekurangannya. Tinggal kita lebih mengagumi kelebihan yang mana dan bisa nerima kekurangan yang mana. Selanjutnya ya itu tadi, waktu. Saya percaya emang ada yang udah atur tentang kelahiran, kematian, rejeki dan..jodoh. Salah satu faktornya adalah waktu tadi.

Orang yang emang jodoh kita akan dimunculin di hidup kita pada waktu yang paling tepat. sebagai seorang yang berisi paket kelebihan dan kekurangannya. Lalu Tuhan ngasih cinta diantara keduanya, untuk akhirnya saling nerima dan menghidupkan diri satu sama lain. jadi istilah-istilah kaya "gw takut dia nanti nggak ngerti gw (yang diucapkan sambil pasang muka sedih)" itu-kalo udah pake cinta urusannya bisa ngerubah kalimatnya jadi "seru deh dia nggak ketebak, kadang gw nggak ngerti dan surprise (yang diucapin sambil senyum)." kebayang nggak apapun yang dialamin orang yang jatuh cinta bisa nggak masuk akal dan tiba-tiba jadi indah semua. Mungkin itu bagian dari keajaibannya.

Kalo kita nggak bisa liat hal menarik dari satu orang, dalam sebuah perkenalan. ya kadang itu sesimple karna emang kalian nggak meant to be. Karena akan selalu alasan untuk nyambung saat orang itu emang orang yang tepat. Akan tercipta berbagai alasan untuk barengan dan melihat sisi menarik dari orang itu. Akan selalu ada alasan untuk bertahan dan terus bertualang seburuk dan se-hopeless apapun keadaanya.

Jadi mungkin baiknya, kita nggak perlu terlalu khawatir dengan ini. karna semua itu akan ngalir gitu aja kalo emang orangnya sudah harus datang di waktu yang dianggap tepat itu.

Tuesday, February 2, 2016

Kedua - Film Terakhir Yang Ditonton : "SITI"



Film terakhir yang saya tonton kemarin judulnya "SITI", saya dengar dari teman-teman kalau film ini sebelumnya sudah berkeliling ke berbagai festival dan pada akhirnya "pulang" ke Indonesia dan memenangkan kategori Film Terbaik di Festival Film Indonesia 2015.

beberapa poin yang muncul di pikiran saya waktu nonton filmnya :
  • Sutradaranya baru pertama kali saya dengar (Eddie Cahyono? ini siapa? dimana selama ini? apa emang saya yang nggak update?)
  • Untuk ukuran di bioskop, ratio film ini unik (4:3 yang biasanya 16:9, jadi layar bioskop nggak full kepake, udah kaya format TV tabung jaman dulu).
  • Hitam Putih? sengaja ya? kayanya kalo warna akan lebih hidup, walaupun ya.. warna hitam putih itu emang memperkuat mood desperate si film sih,
  • Pemainnya, menarik, semua wajah baru. saya suka film dengan pemain wajah baru, rasanya beda, si pemain ini seolah emang dilahirkan sebagai karakter yang dia peranin, jadi belum keganggu dengan bayangan dari karakter lain yang pernah dia mainkan.
  • Bahasa jawa.. oke, masih berharap ada film berbahasa sumatra yang bisa diangkat kaya film ini nantinya. hahaha..
  • Pemeran Siti-tokoh utama-alami banget disini, direction & actingnya ngalir, walaupun saya sempat kepikiran ini si pemain pasti model di dunia nyata, karena bentuk badannya.
  • dan terakhir pas filmnya beres.. gila! filmnya.. intens banget! salut sama semua yang terlibat. rasanya kaya pas abis nonton film "A Separation". bengong, lalu geleng-geleng. ceritanya sederhana banget, tapi bisa begitu meyakinkan dan bikin saya kebawa kesana - ketempat si cerita terjadi dalam pikiran pembuatnya.
Dan berbagai macam pikiran yang lebih baik nggak saya bagi disini karna bisa panjang dan nggak tentu arah.

Yang biasanya saya lakukan dan paling saya nikmatin tiap kali abis nonton adalah, credit title! nah di film ini banyak nama-nama filmmaker Jogja yang terlibat. termasuk produsernya, Mas Ifa Isfansyah (yang merupakan menantu salah satu filmmaker senior Indonesia-Garin Nugroho). Beda ya, film-film buatan orang-orang Jogja, cenderung lebih Indonesia. lebih akrab dan jujur mengangkat budaya kita.

Lalu abis nonton baru saya cari tau soal filmnya, tentang pemain-pemainnya. Menarik. Pemeran Siti ternyata adalah seorang penari profesional yang kalo diliat dari instagramnya emang mendalami tentang tari tradisional. Lalu pemeran Mas Gatot ternyata aslinya beda banget sama tampilan di film. Jadi ngebayangin gimana proses pencarian talent-lalu reading-make up sampe bisa bikin karakter-karakter yang sealami itu di film.

Nonton film ini, buat saya adalah sebuah pengalaman baru pencapaian film Indonesia yang benar-benar jujur, mengangkat kehidupan asli di sebuah sudut kecil Indonesia dengan berbagai masalah yang bisa menghadirkan banyak wacana untuk jadi bahan diskusi. film begini yang bisa bikin perfilman Indonesia jadi lebih bernilai, nggak sekedar hiburan. worth to watch!

Pertama - Tentang Cita-cita

Kalo ditanya sekarang "cita-cita kamu apa,Vi?"

Saya juga bingung sih apa tepatnya dalam satu kata. Yang saya tau, saya suka banget kalo udah ngomongin film. menurut saya film punya potensi yang sangat besar untuk ngebentuk karakter orang. dan kenapa saya concern dengan pembentukan karakter orang? karena ya karakter seseorang pada akhirnya menentukan gimana dia ngejalanin hidupnya, bermanfaat buat orang disekitarnya, menjadi manusia.

Film kuat banget hubungannya dengan budaya suatu bangsa. lewat film kita bisa liat gimana orang di belahan bumi lain memandang hidup, menjalani hidup, pada akhirnya film ngajarin untuk lebih memaknai dan menghargai hidup.

Sebenernya kita bisa aja dapetin itu dari berbagai media lain, kaya tulisan, musik, dll. cuma film adalah media yang bisa membawa pesan dan mengangkat berbagai bentuk media lain di dalamnya. Selain itu mungkin alasan paling kuatnya ya karena emang selama ini saya lebih banyak bermain-main di film.

Nah balik lagi ke cita-cita. saya punya harapan nanti saya bisa produktif di perkembangan film Indonesia. Soalnya, saya ngerasa Indonesia punya budaya yang begitu beragam yang bakal bagus banget kalo bisa diangkat ke media film, biar kita bisa dikenal dunia lewat film.




Caranya? mungkin dengan membangun kesadaran tentang potensi film dan budaya kita ke sebanyak mungkin orang. misalnya dengan jadi orang yang ahli di bidang film Indonesia. Jadi dosen atau peneliti. karena ternyata saya lebih tertarik ke kajian film daripada teknis film. masih abstrak banget ya? hahaha.. yang saya tau, saya bakal penasaran banget nantinya kalo nggak ngejar cita-cita saya ini. dan..

kita akan lebih menyesal untuk hal yang nggak kita lakukan. kan?



Hi, apa kabar?

Blogs ini udah lama saya buat (setelah sebelumnya buat-hapus-buat lagi) tapi ntah kenapa terlalu lama saya biarin kosong,dan yah.. terlalu banyak pertimbangan seperti biasa. mulai dari siapa target penulisan, mau nulis tentang apa, gimana jadwal update-nya, gimana gaya penulisannya, dll. Ada juga pikiran bingung harus mulai dari mana, jadi kaya ada tanggung jawab untuk nyeritain rangkuman hidup saya selama 27 tahun ini, gila ya.. ribet banget untuk blogs aja. bodoh kan. Kenyataannya menunda jadi lebih buruk dari apapun yang saya khawatirin bisa kejadian. :(

sampe, akhirnya.. saya nemuin hashtag #30harimenulis di instagram.

Terus, yaudahlah yang penting mulai nulis lagi. Anggep aja lagi cerita ke Jai, Wimba, & Firdhan yang udah saya ajakin nulis bareng di project ini.  Tujuannya biar bisa nulis dengan jujur, apapun itu, sesimple itu dulu. Semoga berikutnya jadi lebih produktif nulis. AMIN.