Film terakhir yang saya tonton kemarin judulnya "SITI", saya dengar dari teman-teman kalau film ini sebelumnya sudah berkeliling ke berbagai festival dan pada akhirnya "pulang" ke Indonesia dan memenangkan kategori Film Terbaik di Festival Film Indonesia 2015.
beberapa poin yang muncul di pikiran saya waktu nonton filmnya :
- Sutradaranya baru pertama kali saya dengar (Eddie Cahyono? ini siapa? dimana selama ini? apa emang saya yang nggak update?)
- Untuk ukuran di bioskop, ratio film ini unik (4:3 yang biasanya 16:9, jadi layar bioskop nggak full kepake, udah kaya format TV tabung jaman dulu).
- Hitam Putih? sengaja ya? kayanya kalo warna akan lebih hidup, walaupun ya.. warna hitam putih itu emang memperkuat mood desperate si film sih,
- Pemainnya, menarik, semua wajah baru. saya suka film dengan pemain wajah baru, rasanya beda, si pemain ini seolah emang dilahirkan sebagai karakter yang dia peranin, jadi belum keganggu dengan bayangan dari karakter lain yang pernah dia mainkan.
- Bahasa jawa.. oke, masih berharap ada film berbahasa sumatra yang bisa diangkat kaya film ini nantinya. hahaha..
- Pemeran Siti-tokoh utama-alami banget disini, direction & actingnya ngalir, walaupun saya sempat kepikiran ini si pemain pasti model di dunia nyata, karena bentuk badannya.
- dan terakhir pas filmnya beres.. gila! filmnya.. intens banget! salut sama semua yang terlibat. rasanya kaya pas abis nonton film "A Separation". bengong, lalu geleng-geleng. ceritanya sederhana banget, tapi bisa begitu meyakinkan dan bikin saya kebawa kesana - ketempat si cerita terjadi dalam pikiran pembuatnya.
Dan berbagai macam pikiran yang lebih baik nggak saya bagi disini karna bisa panjang dan nggak tentu arah.
Yang biasanya saya lakukan dan paling saya nikmatin tiap kali abis nonton adalah, credit title! nah di film ini banyak nama-nama filmmaker Jogja yang terlibat. termasuk produsernya, Mas Ifa Isfansyah (yang merupakan menantu salah satu filmmaker senior Indonesia-Garin Nugroho). Beda ya, film-film buatan orang-orang Jogja, cenderung lebih Indonesia. lebih akrab dan jujur mengangkat budaya kita.
Lalu abis nonton baru saya cari tau soal filmnya, tentang pemain-pemainnya. Menarik. Pemeran Siti ternyata adalah seorang penari profesional yang kalo diliat dari instagramnya emang mendalami tentang tari tradisional. Lalu pemeran Mas Gatot ternyata aslinya beda banget sama tampilan di film. Jadi ngebayangin gimana proses pencarian talent-lalu reading-make up sampe bisa bikin karakter-karakter yang sealami itu di film.
Nonton film ini, buat saya adalah sebuah pengalaman baru pencapaian film Indonesia yang benar-benar jujur, mengangkat kehidupan asli di sebuah sudut kecil Indonesia dengan berbagai masalah yang bisa menghadirkan banyak wacana untuk jadi bahan diskusi. film begini yang bisa bikin perfilman Indonesia jadi lebih bernilai, nggak sekedar hiburan. worth to watch!

No comments:
Post a Comment